Sejarah Laksamana Cheng Ho Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa dan Nusantara

Patung Laksamana Cheng Ho Tertinggi di Dunia Klenteng Sam Poo Kong Semarang
Patung Laksamana Cheng Ho (Zheng He) di Klenteng Sam Poo Kong Semarang (Historyofjava.com)

Sejarah Laksamana Cheng Ho (Zheng He) sebagai penyebar agama Islam di Tanah Jawa-Nusantara dan perintis paling awal terbentuknya dewan dakwah Walisongo tidak banyak yang tahu. Mungkin karena sejarah telah banyak tertutup dengan kondisi kekinian bahwa China lekat dengan asing-aseng yang dihembuskan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Zheng He, begitu nama Cheng Ho bagi orang-orang Tionghoa. Dia adalah penjelajah samudera yang sangat ulung, jauh jika dibandingkan dengan Kristoforus Kolumbus, penjelajah asal Italia.

Cheng Ho datang ke Nusantara pada sekitar abad ke-15 dengan membawa 208 jung (kapal) berawak kapal lebih dari 27.000 orang. Zheng He bertolak dari China mengemban misi persahabatan dari Kaisar Cheng Tsu atau Kaisar Yung Lo (1402-1424), kaisar ketiga Dinasti Ming.

Misi persahabatan itu ditujukan kepada pemerintahan Majapahit di Tanah Jawa yang begitu terkenal dan tersohor akan kekuatan, kejayaan, serta kemakmurannya. Majapahit saat itu merupakan negara adidaya yang disegani dunia, termasuk Kaisar Dinasti Ming di China-Tiongkok.

Dikutip Historyofjava.com dari buku Sabdo Palon: Sandyakala Wilwatikta karangan Damar Shashangka, sejarah awal berkembangnya Islam bermula ketika Laksamana Cheng Ho mendaratkan armadanya di Simongan, Pergota (Semarang, Jawa Tengah).

Zheng He tidak tahu jika Jawa sedang terjadi krisis politik yang luar biasa, sehingga keadaan menjadi sangat genting akibat Perang Paragreg antara Majapahit Kulon (barat) yang dipimpin Bhatara Prabhu Aji Wikramawardana berkedudukan di Trowulan dan Majapahit Wetan (timur) yang dipimpin Bhre Wirabhumi berkedudukan di Lamajang (Lumajang, Jawa Timur).

Tak ayal, armada Cheng Ho dan awak kapalnya yang baru saja mendarat diserang pasukan Majapahit Kulon. Hal itu disebabkan santer terdengar kabar bahwa Bhre Wirabhumi yang memimpin Majapahit Wetan mendapatkan stempel emas dari Kaisar China, yang diartikan sebagai bentuk dukungan secara tidak langsung kepada Majapahit Wetan.

Akibat kesalahpahaman itu, lebih dari seratus awak kapal Cheng Ho dihabisi. Bahkan, banyak orang Cina yang sudah lama tinggal di kawasan pesisir utara Jawa terkena imbasnya. Masyarakat Cina menjadi resah karena peristiwa tersebut.

Laksamana Zheng He yang tahu kondisi, segera memahami keadaan dan kemudian mengirimkan utusan untuk menghadap kepada Bhatara Prabu Aji Wikramawardhana. Pesan yang dibawa sang utusan adalah kedatangannya ke Jawa untuk mengemban titah dari Kaisar Cheng Tsu dalam rangka memulihkan hubungan kedua belah pihak kerajaan.

Setelah itu, Cheng Ho diundang ke Istana Majapahit dan dijamu dengan sangat luar biasa. Bhatara Prabu Aji Wikramawardhana meminta maaf atas kesalahpahaman dan berjanji akan mengganti segala kerugian.

Bhatara Prabu Aji Wikramawardhana pun mengirim utusan bersama Cheng Ho ke China dan menyampaikan permohonan maaf. Namun, Kaisar China menjadi berang dan sangat murka. Kaisar menuntut Raja Jawa itu mengganti biaya sebesar 60.000 tahil emas (satu tahil setara 37,8 gram) dan memberikan jaminan perlindungan kepada warga Cina yang hidup di Jawa.

Sejak saat itu, Bhatara Prabu Aji Wikramawardhana membuat peraturan bahwa warga Cina jangan sampai diganggu. Bahkan dalam keadaan perang, kawasan Pecinan haram untuk diusik. Pasalnya, Raja Majapahit itu hanya bisa memenuhi tuntutan ganti rugi senilai 10.000 tahil saja, mengingat banyak dana negara yang terkuras akibat Perang Paragreg.



Jaringan Nan Yang, jaringan rahasia Cheng Ho lintas negara

Jaminan keamanan dari Raja Majapahit itu dimanfaatkan dengan baik oleh Laksamana Zheng He. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Kaisar, Cheng Ho membangun jaringan rahasia lintas negara. Tujuannya membentuk negara-negara Islam di kawasan Nan Yang.

Nan Yang artinya adalah Laut Selatan, penyebutan bagi orang-orang Tiongkok untuk Kawasan Asia Tenggara. Sekarang dikenal dengan Asia Pasifik.

Pusat jaringan Nan Yang berada di Champa (sekitar Vietnam, Kamboja). Cheng Ho menunjuk Bong Tak Keng sebagai pemimpin jaringan Nan Yang di Champa yang membawahi Manila, Palembang, Sambas dan Tuban.

Bong Tak Keng berhasil diangkat sebagai penguasa Kauthara, negara bagian Kerajaan Champa. Bahkan, ia berhasil menikah dengan putri Raja Champa, Ngaut Klaung Vijaya atau yang dikenal dengan nama Raja Indravarman VI.

Di Kauthara, Bong Tak Keng memimpin jaringan Nan Yang yang membentang luas hingga mencapai pusat Majapahit di Jawa, bahkan di Sunda Galuh (Pajajaran) yang bermarkas di Cirebon. Tujuan jaringan Nan Yang adalah membentuk negara Islam di kawasan Nan Yang (Asia Tenggara) yang berpusat di Jawa.

Negara Islam yang diproyeksikan Jaringan Nan Yang ini didesain untuk menggantikan Majapahit, negara adidaya yang berpondasikan keyakinan Syiwa-Buddha. Syiwa (penganut ajaran Dewa Siwa) adalah agama yang sekarang di Indonesia dikenal dengan Hindu, karena istilah Hindu sendiri lahir di Bali baru-baru saja.

Desas-desus jaringan Nan Yang tercium juga oleh para pejabat tinggi Majapahit. Karena desas-desus itu, penunjukan seorang pejabat baru yang mengurusi pemeluk agama Islam di Jawa yang sudah direncanakan sejak mendiang Bhatara Prabu Shri Dyah Rahi Suhita, belum juga terlaksana.

Dan pejabat yang direncanakan untuk mengurusi orang-orang beragama Islam di Jawa adalah Syekh Ibrahim Asmarakandi dari Champa yang menjadi ipar dari Bhre Kertabhumi, karena kakaknya Putri Champa, Dewi Amarawati menikah dengan Raja Keling Bhre Kertabhumi. Keling adalah negara bagian Majapahit Raya.

Syekh Ibrahim Asmarakandi adalah ayah Sunan Ampel, sedangkan Bong Tak Keng pemimpin jaringan Nan Yang di Champa adalah kakek Sunan Ampel. Terlebih, Gan Eng Cu, pemimpin jaringan Nan Yang berkedudukan di Tuban adalah mertua Sunan Ampel.

Hingga saat Syekh Ibrahim Asmarakandi, Bong Tak Keng dan Gan Eng Cu meninggal dunia, penerus jaringan Nan Yang adalah Sunan Ampel. Pusat jaringan Nan Yang bentukan Laksamana Cheng Ho yang dulu berada di Champa, kini berpindah di Jawa. Pemimpinnya adalah Susuhunan ing Ngampeldhenta, gurunya para wali dan pendiri Walisongo!

Sunan Ampel yang berdarah campuran Arab, Champa, China dan Pasai inilah yang merintis berdirinya Walisongo, mendirikan pesantren pertama di Indonesia (Nusantara) berlokasi di Surabaya. Sementara Walisongo dibentuk sebagai kelanjutan dari misi utama pembentukan Jaringan Nan Yang semasa Bong Tak Keng atas perintah Laksamana Zheng He.

Karena itu, redaksi historyofjava.com menyimpulkan, Laksamana Cheng Ho adalah perintis awal penyebaran agama Islam di Tanah Jawa yang sebelumnya membentuk jaringan rahasia lintas negara dengan menunjuk Bong Tak Keng sebagai pemimpin berpusat di Champa, kemudian cita-cita itu dilanjutkan oleh Sunan Ampel, cucu Bong Tak Keng dengan membentuk dewan Walisongo.

Dari pembentukan Walisongo inilah, saat lembaga dakwah ini diketuai oleh Sunan Giri (Raden Paku) selepas wafatnya Sunan Ampel, Demak Bintoro berdiri tegak sebagai negara Islam pertama di Tanah Jawa dengan raja pertama Raden Patah. Demak disebut-sebut sebagai penyebab runtuhnya kejayaan negara Majapahit yang gaungnya disegani dunia internasional itu. []

Belum ada Komentar untuk "Sejarah Laksamana Cheng Ho Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa dan Nusantara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel