3 Wanita Penghubung Trah Jawa-Sunda: Pembayun, Putri Champa dan Subang Larang

Putri Pembayun Putri Champa Subang Larang
Ilustrasi Putri Pembayun (Jawa), putri Champa, dan Nyai Subang Larang (Sunda).

PARA wanita yang menjadi penghubung antara trah Raja-raja Jawa dan Sunda (Pajajaran) disebut-sebut ada tiga. Mereka adalah Putri Pembayun, Putri Champa, dan Nyai Subang Larang.

Wacana itu disampaikan Gus Umar (KH. Abdullah Umar Fayumi), kyai muda asal Pati, Jawa Tengah yang konsen dalam mengkaji sejarah leluhur Nusantara.

Generasi bangsa yang mewarisi gen Jawa-Sunda banyak tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Hanya saja, keberadaan mereka terhijab atau tertutupi oleh tabir sejarah yang cukup pelik dan panjang.

Gus Umar menyebut, mereka yang mewarisi gen atau trah persilangan Jawa-Sunda, harus sowan atau ziarah ke makam tiga perempuan tersebut, yakni Putri Pembayun, Putri Champa dan Nyai Subang Larang. Siapa saja mereka?

Putri Pembayun
Ada banyak putri kerajaan di Jawa yang namanya Pembayun. Pertama, anak perempuan pertama Raja Majapahit Prabu Brawijaya V dengan istri permaisuri, Dewi Amarawati.

Dewi Amarawati dikenal dengan Putri Champa. Ia adalah putri dari Raja Kauthara (negara bagian Champa) bernama Bong Tak Keng.

Bong Tak Keng sendiri adalah pejabat China dari Kekaisaran Dinasti Ming yang diambil menantu oleh Raja Champa, Ngaut Klaung Vijaya atau Raja Indravarman VI.

Dari Putri Champa itulah, Prabu Brawijaya V melahirkan Putri Pembayun. Setelah dewasa, ia diperistri oleh Pangeran Andayaningrat dan melahirkan Ki Ageng Pengging, ayah Raden Mas Karebet atau Joko Tingkir yang kelak mendirikan Kasultanan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.

Selain itu, nama Pembayun juga dipakai anak Raden Patah pendiri Kasultanan Demak Bintoro. Putri Raden Patah ini dikabarkan menikah dengan Pangeran Jaya Kelana, putra Sunan Gunung Jati.

Secara berturut-turut, nama "Pembayun" juga digunakan sebagai nama putri Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) dan putri Raja Mataram Panembahan Senopati (Raden Danang Sutawijaya). Lalu, Putri Pembayun mana yang dimaksud Gus Umar sebagai penghubung trah-genetik leluhur Jawa-Sunda, masih menjadi misteri.

Putri Champa
Putri Champa adalah istri Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir. Ia adalah putri Raja Kauthara (negara bagian Champa) yang menjadi paramesywari Kerajaan Majapahit.

Sosok inilah yang disebut-sebut sebagai pihak internal keraton yang memudahkan misi Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa yang sebelumnya memeluk agama Syiwa-Buddha.

Gus Umar menyebut, makam Putri Champa ada di kawasan wisata religi Pasujudan Sunan Bonang, Desa Bonang, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dari trah Putri Champa, cucu Brawijaya V melahirkan sosok Joko Tingkir yang mendirikan Kerajaan Pajang.

Selain Dewi Amarawati, Brawijaya V memiliki istri selir dari Tiongkok bernama Siu Ban Ci, putri seorang saudagar kaya asal China bernama Tan Go Hwat yang dikenal Kyai Batong atau Syekh Bentong.

Konon, Syekh Bentong adalah putra Syekh Quro Karawang yang menjadi perintis penyebar agama Islam di Tanah Pasundan. Sejarah ini bersumber dari Babad Tanah Jawi dan Purwaka Caruban Nagari.

Dari istri selir bernama Siu Ban Ci ini, Brawijaya V melahirkan Raden Patah yang mendirikan Kasultanan Demak Bintoro. Hanya saja, jika yang disebut sebagai penghubung gen Jawa-Sunda adalah Putri Champa, maka Siu Ban Ci tidak masuk kategori karena ia berdarah China bukan Champa.

Hanya saja, redaksi historyofjava.com menganalisa, kemungkinan persilangan trah leluhur Jawa-Sunda dari Siu Ban Ci bisa saja terjadi. Kenapa? Siu Ban Ci disebut dalam naskah sejarah sebagai putri Syekh Bentong dan cucu Syekh Quro yang menyebarkan agama Islam di Tanah Pasundan.

Sementara Syekh Quro terhubung dengan Sunan Ampel sebagai penyebar agama Islam di Tanah Jawa (Majapahit). Namun, ini hanya sebatas opini dan analisa sejarah saja untuk membuka peluang dan kemungkinan bahwa Siu Ban Ci bisa saja menjadi penghubung pewaris trah persilangan Jawa-Sunda.

Nyai Subang Larang
Nyai Mas Subang Larang adalah istri Prabu Siliwangi (Raden Pamanah Rasa) yang melahirkan tokoh Islam legendaris dari tatar Pasundan, yakni Pangeran Cakrabuana (Pangeran Walangsungsang) dan Nyai Mas Rara Santang.

Pangeran Walangsungsang menjadi Raja Islam pertama di Tanah Sunda setelah mendirikan Kasultanan Cirebon yang kemudian dilanjutkan oleh keponakan sekaligus menantunya, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, putra Dewi Rara Santang).

Dari Sunan Gunung Jati inilah perkawinan antara Sunda dan Jawa terjalin secara berkelanjutan. Pasalnya, hubungan Kasultanan Cirebon dan Demak terjalin dengan sangat baik, sehingga banyak dari putra-putri mereka yang dinikahkan.

Dengan begitu, jelaslah genetik leluhur yang mewarisi Sunda dalam pernikahannya dengan bangsawan Jawa berasal dari Nyai Mas Subang Larang, istri Prabu Siliwangi. (*)

Belum ada Komentar untuk "3 Wanita Penghubung Trah Jawa-Sunda: Pembayun, Putri Champa dan Subang Larang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel