Babad Mataram: Sejarah Singkat Mataram, Kartasura, Surakarta & Jogjakarta

babad mataram islam silsilah raja-raja mataram kartasura surakarta jogjakarta mangkunegara
Ilustrasi Babad Mataram Islam: sejarah singkat dan silsilah raja-raja Mataram, Kartasura, Surakarta dan Jogjakarta.

MATARAM adalah kerajaan Islam yang didirikan Raden Danang Sutawijaya bergelar Panembahan Senopati ing Alaga, beribu kota di Kotagede. Kerajaan ini menganut agama Islam dengan mempertahankan ajaran-ajaran luhur Jawa sebagaimana yang diajarkan Kanjeng Sunan Kalijaga.

Asal-usul Mataram bermula ketika Raden Sutowijoyo bersama punggawa Pajang dari Selo (Grobogan), Ki Ageng Panjawi, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Martani berhasil menumpas Adipati Jipang Panolan, Arya Penangsang. Adipati Pajang Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya lantas menghadiahkan tanah di hutan Mentaok yang dikenal angker, wingit dan dihuni banyak bangsa lelembut sejenis jin.

Mataram semula sebuah pedukuhan kecil yang masuk wilayah negara besar Kasultanan Pajang, dengan Ki Ageng Pamanahan sebagai sesepuh yang babat alas sehingga dinamakan Ki Gedhe Mataram. Namun setelah berkembang pesat dan seiring runtuhnya Kasultanan Pajang, Mataram mendeklarasikan diri sebagai negara yang berdaulat.

Untuk memudahkan tentang sejarah perkembangan Kerajaan Mataram Islam hingga keruntuhannya, redaksi historyofjava.com membuat rangkuman singkat berjudul "Babad Mataram: Sejarah Singkat Kerajaan Mataram, Kertasura, Surakarta hingga Jogjakarta" dan menyertakan peta silsilah raja-rajanya yang ada di foto paling atas.

Panembahan Senopati (1588-1601)
Raja pertama Mataram adalah Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pamanahan. Nama kecilnya Bagus Srubut atau Raden Ngabehi Sutawijaya. Ia memerintah antara tahun 1588 hingga 1601 dengan ibu kota di Kotagede dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Mataram di Kotagede, Jogjakarta.

Panembahan Hanyakrawati (1601-1613)
Nama kecilnya adalah Mas Jolang, putra Panembahan Senopati dari istri Waskita Jawi bergelar Kanjeng Ratu Pati, putri Ki Penjawi. Pengangkatan Mas Jolang menjadi raja menuai protes. Namun, ia akhirnya naik tahta menjadi Raja Mataram kedua bergelar Panembahan Hanyakrawati. Makamnya berlokasi di kompleks raja-raja Mataram di Kotagede.

Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646)
Nama kecilnya adalah Mas Rangsang, dinobatkan sebagai Raja Mataram ketiga saat usia 20 tahun setelah ayahnya, Panembahan Hanyakrawati meninggal dunia secara tidak wajar.

Saat naik tahta, gelarnya ada tiga, pertama Panembahan Hanyakrakusuma, berganti gelar Susuhunan Hanyakrakusuma yang dipakai selama 17 tahun, dan terakhir berganti Sultan Agung Adiprabu Hanyokrokusumo yang dipakai selama 4 tahun.

Sultan Agung memindahkan ibu kota dari Kotagede ke Karta. Sama seperti Prabu Hayam Wuruk, Mataram mengalami masa keemasan di zaman Sultan Agung dimana Pulau Jawa tunduk di bawah panji-panji Mataram, kecuali Batavia markas VOC (Betawi, Jayakarta, sekarang Jakarta) dan Banten.

Makam Sultan Agung terletak di kompleks makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Sebelum Sultan Agung, sesungguhnya pernah dilantik Raden Mas Wuryah sebagai penguasa Mataram bergelar Adipati Martapura, putra Panembahan Hanyakrawati dari istri permaisuri Ratu Tulungayu.

Namun karena suatu hal, konon karena cacat mental, Adipati Martapura hanya menjadi "raja" selama satu hari, kemudian dianulir sehingga lengser keprabon. Hal itu disebabkan Panembahan Hanyakrawati pernah berjanji kepada Ratu Tulungayu bahwa kelak putra dari rahimnya yang diangkat menjadi raja selanjutnya.

Amangkurat Agung (1646-1677)
Nama kecilnya adalah Raden Mas Sayyidin, putra Sultan Agung dari istri Ratu Batang, putri Adipati Batang. Setelah naik tahta sebagai raja keempat Mataram bergelar Susuhunan Amangkurat Agung.

Amangkurat memindahkan ibu kota dari Karta ke Plered, dari yang semula keraton dibuat dari kayu jati dibuat menjadi bahan batu bata. Amangkurat membangun banyak infrastruktur, termasuk memulai kekuatan maritim (laut) yang berpusat di Tegal karena sebelumnya Mataram berbasis agraris atau pertanian.

Amangkurat meninggal dunia dan dimakamkan di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, setelah keratonnya berhasil diduduki pasukan gabungan Trunajaya dari Madura, Giri Kedaton dan Surabaya dengan dukungan ulama dari Kajoran (sekarang Klaten).

Amangkurat Amral (1677-1703)
Nama kecilnya adalah Raden Mas Rahmat, putra Amangkurat 1 dari Ratu Kulon putri Pangeran Pekik dari Surabaya (trah Sunan Ampel). Dia dikenal juga sebagai Amangkurat 2 yang dinobatkan sebagai raja Mataram tanpa istana, karena keraton waktu itu sudah diduduki Trunojoyo.

Amangkurat 2 kemudian mendirikan Keraton Kartasura di hutan Wanakarta. Dengan kata lain, ibu kota Mataram telah dipindah di Kartosura (sekarang Kertasura Sukoharjo). Bersama VOC, Amangkurat memerangi saudaranya, Pangeran Puger yang berhasil menduduki istana Plered dan mengusir punggawa-punggawa Trunajaya yang ditempatkan di Plered.

Pangeran Puger diampuni dan bergabung dengan saudaranya, Amangkurat 2 di Istana Kartasura. Keraton Plered berakhir dan berpindah ke Kartasura. Dengan demikian, Raja Kartasura pertama adalah Raden Mas Rahmat bergelar Amangkurat Amral.

Amangkurat Mas (1703-1706)
Amangkurat Mas atau dikenal Amangkurat 3 adalah putra Amangkurat 2 yang menjadi Raja Kasunanan Kartasura kedua (Mataram ke-6) bergelar Susuhunan Amangkurat Mas III. Nama kecilnya Raden Mas Sutikno.

Tahta Amangkurat III berhasil direbut pamannya, Pangeran Puger yang sebelumnya melarikan diri ke Semarang dan berhasil menggalang kekuatan dengan bantuan VOC. Dia lantas dibuang ke Srilanka dan wafat di sana sekitar tahun 1734.

Pakubuwono I (1706-1719)
Nama kecilnya Raden Mas Drajat atau Pangeran Puger, putra Amangkurat 1, adik Amangkurat 2 (Raden Mas Rahmat) beda ibu, juga paman Amangkurat 3. Dia berhasil naik tahta sebagai Raja Kasunanan Kartasura ketiga bergelar Sri Susuhunan Pakubuwono, setelah menyingkirkan keponakannya, Amangkurat Mas III.

Amangkurat Jawa IV (1719-1726)
Nama aslinya adalah Raden Mas Suryaputra, putra Pangeran Puger (Pakubuwono pertama), ibunya adalah Ratu Mas Blitar keturunan Pangeran Juminah putra Panembahan Senopati.

Dia berhasil memadamkan pemberontakan dari saudara-saudaranya yang dikenal dengan Perang Suksesi Jawa II. Konon, Amangkurat 4 meninggal dunia pada tanggal 20 April 1726 setelah diracun.

Pakubuwono II (1726-1742)
Nama aslinya adalah Raden Mas Prabasuyasa, istrinya masih keturunan Sunan Kudus. Ia adalah putra Amangkurat 4 dan naik tahta menjadi raja Kasunanan Kartasura untuk yang terakhir.

Pasukan gabungan Bupati Madura Barat Cakraningrat IV dan VOC berhasil merebut istana Kartasura pada bulan Desember 1742. Karena memberontak, Cakraningrat IV kemudian berhasil ditumpas VOC. Hal itu disebabkan VOC mengampuni Pakubuwono II, sedangkan Cakraningrat IV meminta Pakubuwono II dibuang saja.

Pakubuwono II akhirnya membangun istana kembali di Desa Sala, karena istana Kartasura sudah hancur. Istana baru itulah yang dinamakan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dengan demikian, Pakubuwono II adalah raja pertama Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan menjadi sesepuh atau leluhurnya raja-raja Solo.

Sultan Hamengkubuwono (1755-1792)
Nama aslinya adalah Raden Mas Sujono bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia adalah putra Amangkurat IV sekaligus adik Pakubuwono II.

Pangeran Mangkubumi hengkang dari Keraton Surakarta setelah kakaknya, Pakubuwono II sang raja Surakarta menerima tawaran VOC untuk menyewakan daerah pesisir kepada VOC senilai 20.000 real Spanyol setiap tahunnya. Mangkubumi bersama keponakannya, Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) bergabung melawan kakaknya, Pakubuwono II dan VOC.

Setelah Pakubuwono II wafat, Mangkubumi mengangkat diri sebagai Pakubuwono III bermarkas di Kebanaran, sedangkan VOC mengangkat putra Pakubuwono II sebagai raja yang juga bergelar Pakubuwono III. Perang melawan VOC berakhir setelah Perjanjian Giyanti dilakukan antara Mangkubumi dan VOC yang mewakili Pakubuwono III.

Keputusannya, Surakarta dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Surakarta sendiri dan Jogyakarta. Pangeran Mangkubumi akhirnya menjadi raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pertama bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono. Dengan demikian, Mangkubumi adalah leluhur dari raja-raja Jogja.

Mangkunegara
Perjanjian Giyanti menciptakan koalisi baru antara VOC, Sultan Hamengkubuwono dan Pakubuwono III melawan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa). Mas Said memiliki kekuatan besar yang sulit dikalahkan oleh tiga koalisi sekaligus.

Raden Mas Said terhitung masih sepupu Pakubuwono III. Dia juga masih keponakan sekaligus menantu Sultan Hamengkubuwono. Ayah Pangeran Samber Nyowo, Arya Mangkunegara dibuang VOC ke Srilanka, sehingga semakin mengobarkan semangat perlawanannya terhadap VOC.

VOC yang kuwalahan (keteteran) memerangi Raden Mas Said akhirnya mendesak Pakubuwono III untuk berdamai. Melalui perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757, Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyowo diberi wilayah bernama Mangkunegara.

Ia diangkat sebagai Adipati Miji sekelas "raja kecil" yang masih masuk Kasunanan Surakarta, tetapi berdaulat. Karena itu, namanya bukan kasultanan atau kasunanan, melainkan Praja Mangkunegaran.

Pangeran Samber Nyowo kemudian bergelar Mangkunegara I dan mendirikan keraton di Istana Mangkunegaran, terletak di pinggir Kali Pepe. Wilayah Mangkunegara meliputi Matesih, Kedaung, Sembuyan, Honggobayan, Pajang sebelah utara dan Kedu, hingga Gunung Kidul.

Pangeran Samber Nyowo dimakamkan di Astana Mangadeg, Matesih, Karanganyar, Surakarta. Ia yang disebut-sebut sebagai leluhur Bu Tin, istri Presiden Soeharto. (*)

Belum ada Komentar untuk "Babad Mataram: Sejarah Singkat Mataram, Kartasura, Surakarta & Jogjakarta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel