Fakta Sejarah Perang Pati (Adipati Pragola) vs Mataram (Panembahan Senopati)

Sejarah Perang Pati vs Mataram Jogja
Ilustrasi Pati melawan Mataram.

SEJARAH perang Kadipaten Pati melawan Kerajaan Mataram telah mempengaruhi hubungan sosial-budaya masyarakat Kabupaten Pati dan Jogjakarta hingga sekarang. Fakta sejarah masa lampau itu mengakibatkan jarak antara Pati (utara) dan Jogja (selatan), hingga ada larangan atau pantangan menikah bagi warganya.

Mitos yang berkembang di kalangan masyarakat sekarang ini, pernikahan warga Pati dan Jogja tidak akan berlangsung lama karena akan mendapatkan musibah. Hal itu didasarkan pada sejarah masa lalu akibat perang Adipati Pati Pragola (Wasis Joyokusumo) dengan Raja Mataram Panembahan Senopati (Raden Danang Sutowijoyo).

Namun, benarkah sejarah masa lalu memang demikian? Untuk mengurai fakta-fakta sejarah tersebut, redaksi historyofjava.com mengutip dari berbagai sumber sejarah untuk membuktikan apakah kisah dan cerita perang Pati melawan Mataram benar-benar terjadi atau hanya sekadar mitos belaka.

Penaklukan Madiun
Perang antara Mataram dengan Surabaya hampir di depan mata. Namun, keduanya akhirnya berdamai dengan dimediasi oleh Sunan Adi Giri Parapen, Raja Giri Kedaton yang juga seorang ulama kharismatik disegani para raja di Nusantara.

Pasca gencatan senjata, Pangeran Timur putra Sultan Trenggono yang bungsu bergelar Panembahan Madiun membelot dari Mataram. Pembelotan itu langsung didukung penuh oleh Pangeran Panji Jayalengkara, penguasa Surabaya.

Sebanyak 70.000 bala tentara dari Brang Wetan dikerahkan Surabaya untuk memperkuat Madiun dari ancaman Mataram. Sementara di pihak Mataram, hanya 8.000 pasukan.

Pasukan Mataram dibagi menjadi tiga, yakni sayap kanan, tengah dan kiri. Sayap tengah dipimpin oleh Wasis Joyokusumo, Adipati Pragola, penguasa Kadipaten Pati. Ia adalah putra Ki Ageng Penjawi, sekaligus adik ipar dari Panembahan Senopati.

Kakak Adipati Pragola, Waskita Jawi diperistri Panembahan Senopati dengan gelar Kanjeng Ratu Pati. Kabupaten Pati merupakan salah satu sekutu Mataram paling kuat, karena belum pernah ditundukkan oleh siapa pun.

Singkat cerita, melalui taktik dan siasat perang, Madiun berhasil dikalahkan pasukan Mataram. Putri Madiun, Retno Dumilah konon diambil istri oleh Panembahan Senopati dalam suasana peperangan, setelah pasukan Madiun kocar-kacir mundur ke timur.

Hal itu yang membuat Adipati Pati mendidih darahnya. Bagi Sang Adipati, pernikahan dalam suasana perang sangatlah tidak etis. Ada sejarah juga yang mencatat, Adipati Pragola marah karena khawatir kedudukan kakaknya sebagai garwa padmi (permaisuri) digeser dengan hadirnya Retno Dumilah.

Bala tentara dari Kadipaten Pati Pesantenan pun ditarik mundur tanpa pamit Panembahan Senopati. Sejak saat itu, hubungan Pati dan Mataram menjadi sangat renggang. Bahkan, Wasis Joyokusumo lantas tidak pernah menghadiri pisowanan di Keraton Mataram sejak peristiwa tersebut.

Putra Ki Ageng Penjawi itu pun justru membuat pisowanan tersendiri di Kadipaten Pati. Beberapa daerah sekitar marak ke Keraton Pati seolah-olah Pati ingin mendirikan kerajaan sendiri, meski sebetulnya kedudukan Pati adalah wilayah yang setara dengan Mataram waktu itu.

Perang Pati melawan Mataram
Sejarah umumnya mencatat, Kadipaten Pati ngeluruk Mataram pada Syaka Warsa 1522 atau 1600 Masehi. Adipati Wasis Joyokusumo konon tewas di tangan kakak iparnya sendiri, Panembahan Senopati.

Bagi Mataram, apa yang dilakukan Adipati Pati adalah makar atau pemberontakan. Namun, bagi Pati, apa yang dilakukan adalah demi marwah dan harga diri wilayah yang kedudukannya setara dengan Mataram.

Kabarnya saat konflik berlangsung, Ki Panjawi memilih untuk netral karena yang berperang antara anak dan menantunya sendiri. Ia memilih untuk pergi ke mancanegara (sekarang Banjarnegara) dan hingga akhirnya dimakamkan di Banjarnegara yang dikenal sebagai Bupati Pesantenan bernama Rampak Boyo.

Fakta sejarah mengejutkan muncul dari catatan H.J de Graaf dan T.H Pigeaud (2001), M.C Ricklefs (1991) dan Purwadi (2007). Catatan-catatan sejarah itu tidak menyebutkan adanya perang antara Raja Mataram Panembahan Senopati dengan Adipati Pati Wasis Joyokusumo.

Dikisahkan dalam catatan tersebut, banyak daerah bawahan Mataram di sekitar Pati Pesantenan yang ditaklukkan Adipati Pragola dengan mudah. Panembahan Senopati kemudian mengirim putranya, Mas Jolang untuk menghadapi pamannya itu.

Kedua pasukan bertemu di daerah sekitar Candi Prambanan. Mas Jolang adalah keponakan Adipati Pati sendiri, karena ia adalah putra dari kakaknya, Waskita Jawi atau Kanjeng Ratu Pati.

Sang Paman enggan bertarung dengan keponakannya sendiri. Ia meminta agar Panembahan Senopati sendiri yang menghadapinya. Tapi Mas Jolang tetap ingin melawan pamannya itu.

Adipati Pragola pun memukul Mas Jolang dengan gagang tombak agar mengurungkan niatnya melawan pamannya sendiri. Mas Jolang terluka dan kembali ke Keraton Mataram.

Dengan terlukanya Mas Jolang, konon Ratu Mas (Waskita Jawi) sudah merelakan jika adiknya itu, Pragola harus ditumpas suaminya, Panembahan Senopati. Meski begitu, Raden Sutawijaya enggan melawan adik iparnya sendiri.

Panembahan Senopati tidak pernah datang meladeni tantangan adik iparnya, Adipati Wasis Joyokusumo. Sang Adipati pun menarik pasukan mundur dan membuat pertahanan di kawasan Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah.

Hingga Adipati Pati menetap dan meninggal di Gunung Pati, Panembahan Senopati tidak pernah muncul untuk menghadapi tantangan adik iparnya tersebut. Wasis Joyokusumo pun dimakamkan di Gunung Pati, Semarang.

Dengan catatan tersebut, bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya Panembahan Senopati dan Wasis Joyokusumo tidak pernah melakukan perang tanding atau berhadap-hadapan sebagaimana cerita mitos dan legenda selama ini. Karena itu, warga Pati dan Jogja tidak perlu risau jika ingin melangsungkan pernikahan.

Sejarah Indonesia memang kerap dipelintir penjajah untuk mengadu domba rakyatnya agar mudah tercerai-berai. Ini yang disebut politik pecah belah atau devide at impera.

Hal yang sama disampaikan peneliti naskah kuno asal Yogyakarta, Herman Sinung Janutama. Menurutnya, sejarah perang Pati melawan Mataram adalah cerita buatan Belanda.

Menurut Sinung, Belanda membuat berbagai serat sendiri usai Perang Diponegoro. Bahkan, ia menyatakan jika pertarungan Pati melawan Mataram tidak pernah ada bukti sejarahnya sehingga patut dipertanyakan. (*)

Belum ada Komentar untuk "Fakta Sejarah Perang Pati (Adipati Pragola) vs Mataram (Panembahan Senopati)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel