Jejak Keraton Mataram, Sejarah Perpindahan dan Peninggalan Situsnya

Istana Keraton Mataram
Ilustrasi Istana Karta, Ibu Kota Mataram dalam film Sultan Agung.

KERATON Mataram Islam berpindah-pindah, yang dimulai dari raja ketiga, Sultan Agung Panembahan Hanyakrakusuma. Bagaimana sejarah perpindahan dan peninggalan situsnya?

Kerajaan Mataram pertama kali dimulai di Kotagede, dirintis oleh Ki Ageng Pemanahan. Dulu kawasan ini merupakan hutan rimba bernama alas Mentaok yang dihuni ribuan bangsa jin dan dikenal angker, mistis dan wingit.

Kenapa dinamakan Mataram? Karena saat babat alas Mentaok, daerah ini dulunya pernah berdiri Kerajaan Mataram kuno atau yang dikenal dengan Kerajaan Medang dengan dua dinasti yang hidup berdampingan secara rukun, yakni Wangsa Sanjaya (Hindu) dan Syailendra (Buddha).

Peninggalan Kerajaan Mataram kuno adalah Candi Borobudur di Magelang dan Candi Prambanan di Sleman, Yogyakarta. Hutan Mentaok diberikan Raja Pajang Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan, karena berhasil menumpas Adipati Jipang Panolan Arya Penangsang.

Karenanya, Ki Ageng Pamanahan juga disebut Ki Gedhe Mataram. Waktu itu, Mataram masih berupa perdukuhan kecil perdikan bebas pajak yang masih masuk negara Kasultanan Pajang.

Setelah pasukan Pajang gagal mengalahkan Mataram karena diterjang letusan Gunung Merapi, Mataram mulai berdiri dan merintis sebagai sebuah wilayah merdeka. Raja pertamanya adalah putra Ki Ageng Pamanahan bernama Raden Danang Sutawijaya yang mengambil gelar Panembahan Senopati.

Dari catatan yang dihimpun historyofjava.com dari berbagai sumber, sejarah perpindahan Keraton Mataram sebagai ibu kota baru dimulai dari Sultan Agung yang memindahkan istana di Kotagede ke Karta, kemudian dipindah Amangkurat dari Karta ke Plered, lalu Amangkurat 2 membuat keraton baru di Kartasura karena sebuah konflik. Berikut penjelasannya!

Keraton Kotagede
Jejak peninggalan istana Kerajaan Mataram Islam pertama ini sekarang bisa dilihat di selatan Pasar Kotagede, Jogja. Ada banyak situs peninggalan di sana, seperti Masjid Gedhe Mataram, sendang seliran, benteng cepuri atau benteng bagian dalam hingga makam Raja-raja Mataram.

Di kompleks makam tersebut, ada makam Ki Ageng Pamanahan sebagai perintis Kerajaan Mataram, Panembahan Senopati ing Alaga sebagai raja pertama Mataram, dan Panembahan Hanyakrawati (Mas Jolang) raja kedua Mataram.

Di sana juga terdapat makam kerabat istana, termasuk makam para istri raja seperti makam Kanjeng Ratu Pati (Waskita Jawi), permaisuri Panembahan Senopati dari putri Ki Ageng Penjawi, penguasa pertama Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Keraton Karta
Sejak Mas Rangsang naik tahta menjadi raja ketiga Mataram bergelar Panembahan Hanyakrakusuma atau Sultan Agung, keraton dan ibu kota Mataram Islam dipindah dari Kotagede ke Karta.

Saat ini, Karta berlokasi di Dukuh Kerto, Desa Plered, Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dulu, daerah ini pernah dijadikan istana bagi raja terbesar Mataram, Sultan Agung Adiprabu Hanyakrakusumo.

Sayangnya, jejak situs peninggalannya hampir tidak ada. Situs Kerto hanya menyisakan dua umpak dari batu andesit berukuran 85 cm x 85 cm dengan tinggi 65 cm. Umpak adalah alas atau penyangga tiang kayu bangunan zaman dulu.

Keraton Plered
Setelah Sultan Agung wafat, anaknya dari istri Ratu Batang, Raden Mas Sayyidin naik tahta dengan mengambil gelar Susuhunan Amangkurat. Sama dengan jejak ayahnya, Amangkurat memindah keraton dari Karta ke Pleret.

Jika istana Karta yang dibangun Sultan Agung dulu berbahan kayu, Amangkurat membangun istana Plered menggunakan batu bata. Meski situs ini hampir tak berbekas karena agresi militer yang dilancarkan pasukan Trunojoyo pangeran dari Madura, tetapi lokasi situs istana Plered diperkirakan berada di Situs Masjid Kauman Pleret.

Letak bekas keraton Plered berlokasi di Dukuh Kedaton, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, DIY. Hilangnya jejak keraton yang dibangun Amangkurat ini disebabkan banyak hal, salah satunya penjarahan Trunajaya, Pangeran Diponegoro yang menjadikan bekas keraton Mataram ini sebagai benteng atau markas untuk melawan VOC, serta VOC sendiri mendirikan pabrik gula yang mengambil batu bata dari situs Keraton Plered.

Keraton Kartasura
Kasunanan Kartasura adalah penerus dinasti Mataram, pendirinya adalah Raden Mas Rahmat atau Amangkurat 2, putra dari Amangkurat 1. Keraton ini dulunya dibangun di hutan Wanakarta, kemudian diberikan nama Kartasura.

Saat serbuan Trunojoyo dari Madura dan istana Pleret diduduki, Amangkurat 1 bersama anaknya, Mas Rahmat dilarikan ke wilayah Banyumas. Amangkurat 1 meninggal dunia dan dimakamkan di Tegal.

Di istana Pleret, sisa pasukan Trunajaya berhasil ditumpas Pangeran Puger (mas Drajat), adik Amangkurat 2. Namun, Pangeran Puger lantas menabalkan diri sebagai raja bergelar Susuhunan Pakubuwono berkedudukan di istana Plered, sehingga Mas Rahmat mendirikan keraton sendiri di Kartasura.

Dengan bantuan VOC, Mas Rahmat berhasil menggempur adiknya sendiri. Sejak saat itu, tamatlah Keraton Pleret dan tamatlah pula Kerajaan Mataram, kemudian berganti Kasunanan Kartasura.

Pangeran Puger menyerah dan mengabdi di Kasunanan Kartasura. Bekas keraton Mataram di Plered pun mulai ditinggalkan. Seiring konflik internal keraton, Pangeran Puger keluar sebagai pemenang setelah berkoalisi dengan VOC dan melanjutkan pemerintahan di istana Kartasura.

Saat ini, jejak keraton Kartasura terletak di Desa Siti Hinggil, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Surakarta (Solo). Kerajaan Kartasura ditinggalkan setelah terpecah menjadi dua, yakni Surakarta dan Yogyakarta. (*)

Belum ada Komentar untuk "Jejak Keraton Mataram, Sejarah Perpindahan dan Peninggalan Situsnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel