Kisah Dewi Nawang Wulan: Teori Pernikahan Manusia dan Bidadari, Jin atau Peri

manusia dan bidadari peri jin pacaran
Ilustrasi hubungan manusia dengan makhluk peri, bidadari atau jin dari dunia/dimensi lain.

KISAH Dewi Nawang Wulan seorang bidadari dari kahyangan yang menikah dengan manusia bernama Joko Tarub begitu melegenda di Tanah Jawa. Memang bisa manusia menikah dengan bidadari, peri atau jin? Bagaimana teorinya?

Cerita pernikahan Joko Tarub dan Dewi Nawang Wulan tercatat dalam sejarah Babad Tanah Jawi, serat yang ditulis pujangga Mataram pada sekitar abad ke-18. Sebagian besar sejarawan menyatakan jika kisah ini adalah kiasan atau pasemon dalam bahasa Jawa, bukan bermakna sebenarnya.

Kenapa? Sebab mustahil manusia bisa melangsungkan perkawinan dengan bangsa jin, apalagi bidadari atau peri yang hanya ada dalam dongeng. Hal itu disebabkan manusia memiliki jasad atau fisik, sedangkan makhluk halus tidak memiliki raga.

Sebagian kalangan menyebut, pernikahan antara manusia dan makhluk lelembut memungkinkan terjadi tetapi melalui mekanisme yang gaib pula. Bukan berwujud sama-sama fisik, karena makhluk gaib tidak bermateri seperti manusia.

Itu sebabnya, sejarawan memastikan kisah Dewi Nawang Wulan dari langit yang turun ke bumi dan menikah dengan pemuda bernama Joko Tarub, bukanlah dari makhluk bidadari atau peri. Damar Shashangka, seorang penulis naskah-naskah kuno mengidentifikasi Nawang Wulan sebagai putri seorang brahmana dari Tanah Sunda yang mengembara ke Tanah Jawa.

Kisah selengkapnya mengenai teori sejarah tentang asal-usul Dewi Nawang Wulan sebagai perempuan cantik dari Prahyangan, silakan baca: Sejarah Putri Brahmana dari Sunda yang Menikah dengan Joko Tarub.

Teori perkawinan jin dan manusia
Om Hao, seorang spiritualis sekaligus indigo menjelaskan tentang teori pacaran dengan makhluk gaib dalam "Asmara Dua Dunia" yang ditayangkan di Kisah Tanah Jawa.

Dalam penuturannya, peri atau bidadari berasal dari dimensi lain. Ia adalah makhluk gaib. Bahkan, mahkluk halus dari kalangan peri biasa tampil kekinian.

Peri bisa memiliki kecantikan sepuluh kali lipat dari wanita cantik yang ada di dimensi manusia. Wajah atau rupanya juga beraneka ragam, ada yang bule, khas arab atau Timur Tengah, oriental, dan lainnya.

Boleh dibilang, peri seperti bidadari. Hanya saja, peri punya kecenderungan orientasi suka dengan laki-laki dari manusia. Ia ingin menjadikannya sebagai suami dan bersifat cemburuan, mudah jealous.

Pertemuan itu bisa saja saat manusia mengunjungi tempat-tempat angker seperti hutan. Laki-laki bisa saja didatangi melalui mimpi, sehingga terjadi mimpi basah.

Hanya saja, pertemuannya di alam mimpi biasa berwujud orang yang ada di alam nyata seperti dengan mantan pacar, teman dan lainnya. Ketika merasa nyaman, keduanya suka menyendiri dan ketemu lagi.

Akhirnya jadian. Kalau sudah nyaman, sosok peri akan mendampingi terus kemanapun. Bahayanya menurut Om Hao, tali jodoh dengan manusia bisa saja terputus sehingga menimbulkan fenomena susah mencari jodoh.

Pasalnya, si peri mudah jealous dan berusaha menjauhkan ketika pria dekat dengan seorang wanita. Jika hubungan dengan peri berlangsung makin jauh, ada kisah tertentu yang menyebutkan ritual pernikahan dengan peri, bidadari atau makhluk gaib yang memang sangat cantik.

Dalam tahap tertentu, peri yang berasal dari dimensi astral, bisa mewujudkan dirinya dalam bentuk "solid" atau fisik seperti manusia hanya ketika saat bertemu dengan pasangannya. Akibat dari pernikahan itu, tingkat spiritual atau sense indera keenam si lelaki biasanya semakin peka.

Selain itu, si laki-laki dapat dipastikan akan menjadi kaya-raya. Tapi dengan catatan, si pria tidak boleh menikah seumur hidup. Om Hao juga menjelaskan, pernikahan ini tidak diperbolehkan agama maupun adat istiadat karena bertentangan dengan kodrat manusia.

Fenomena ini memang terbilang langka dan kasuistis, tetapi sangat mungkin. Kenapa? Sebab semesta ini memang terdiri dari lapis alam yang dihuni bukan hanya manusia, tetapi juga makhluk lain seperti jin misalnya jika dalam pengetahuan agama Islam.

Pernikahan ini ada yang disengaja atau tidak. Misalnya dalam hal turun temurun yang pernah dilakukan leluhur terdahulu saat melakukan perjanjian dengan makhluk halus, kemudian secara tidak langsung dilanjutkan oleh anak cucunya.

Lagi-lagi kisah ini terdapat dalam Babad Tanah Jawi yang menceritakan perkawinan Raja Mataram, Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan. Dalam kisah ini, anak-cucu Panembahan Senopati dan raja-raja Mataram terikat perjanjian dengan pernikahannya dengan Ratu Kidul.

Genderuwo
Dalam konteks perempuan, terkadang ada kisah kasuistis yang ternyata berhubungan dengan sosok yang mirip suaminya tetapi justru genderuwo. Kisah ini diakui Om Hao pernah terjadi pada orang-orang yang pernah ditemuinya.

Ia menyarankan kepada suami untuk tidak lama-lama meninggalkan istri. Ia juga menyarankan si istri kalau malam jangan dandan menor, terlebih saat tidak ada suami. Hal itu akan mengundang makhluk jin sebangsa genderuwo untuk mendekat.

Kisah nyata yang diceritakan, suatu ketika suami pamit kerja shift malam. Makhluk genderuwo mengintai dari kejauhan. Saat itulah momen genderuwo berubah rupa seperti suaminya persis, seperti tiruan KW super kata Om Hao.

Sosok genderuwo akan memberikan hipnotis pada perempuan dan terjadilah hubungan suami-istri. Bahkan, suami KW super dari makhluk genderuwo ini akan memberikan sensasi yang lebih hebat dan kuat dari suami aslinya.

Paginya, si istri biasanya lantas lupa. Namun ada kejadian yang ingat sehingga terjadi kehebohan. Tapi untuk membedakan antara suami asli dan KW super dari genderuwo, biasanya di bawah hidung tidak ada garis yang menghubungkan dengan bibir, mungkin seperti Lord Voldemort dalam film Harry Potter.

Ada beberapa kasus, si wanita yang akan berhubungan badan dengan sosok genderuwo yang menyamar sebagai suaminya, menyebut kalimat istighfar, sosok suaminya kaget dan seketika berubah menjadi aslinya. Genderuwo memang makhluk gaib yang berkarakter mesum dan suka kurang ajar seperti mengganggu manusia.

Pesugihan
Hubungan suami istri juga terjadi pada kasus saat seseorang mengambil pesugihan dengan syarat ritual harus berbulan madu dengan sosok gaib. Saat ritual berlangsung, sosok itu mewujudkan penampakannya dalam wujud solid atau fisik, sehingga bisa bersentuhan.

Kisah ini banyak terjadi pada orang-orang yang mengambil pesugihan dari Nyai Blorong. Itu artinya, sekat-sekat antara dimensi manusia dan gaib bisa menyatu dengan momen tertentu.

Makhluk dimensi lain juga bisa mewujud dalam bentuk solid atau fisik, masuk ke dimensi manusia dan lantas berhubungan dengan manusia. Hanya saja, peristiwa dan fenomena langka seperti ini tidak masuk pembahasan ilmu pengetahuan yang ilmiah, karena sains hanya membatasi segala sesuatu yang empirik, artinya bisa dilihat atau didengar menggunakan panca indera.

Karena itu, pernikahan Dewi Nawang Wulan yang dikatakan sebagai sosok bidadari dengan manusia bernama Joko Tarub bisa saja terjadi. Tetapi juga, bisa jadi hanya cerita kiasan, tersirat atau pasemon yang butuh penafsiran dalam khasanah teks kebudayaan sejarah Nusantara.

Belum ada Komentar untuk "Kisah Dewi Nawang Wulan: Teori Pernikahan Manusia dan Bidadari, Jin atau Peri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel