Kisah Pangeran Walangsungsang, Pendiri Cirebon & Raja Islam Pertama di Tanah Sunda

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana Anak Prabu Siliwangi
Ilustrasi Pangeran Cakrabuana, pendiri Kadhaton Cirebon negara Islam pertama di Tanah Sunda.

SIAPAKAH Pangeran Walangsungsang itu? Ia adalah anak Prabu Siliwangi dari istri Nyai Subang Larang yang menjadi raja Islam pertama di Tanah Sunda bergelar Sri Mangana Cakrabuana, setelah mendirikan Kerajaan Cirebon. Ia juga dikenal dengan nama Pangeran Cakrabuana.

Kisah Pangeran Walangsungsang sangat mengharukan. Ia adalah anak raja yang memilih keluar dari keraton bersama adiknya, Rara Santang untuk mengembara dan belajar agama baru bernama Islam.

Peran Pangeran Walangsungsang sangat besar bagi penyebaran agama Islam di Tanah Pasundan. Bahkan, agama Rasul itu ternyata lebih dulu masuk di kawasan Sunda-Galuh ketimbang Majapahit.

Tepatnya ketika Majapahit masih dijabat Raden Suryawikrama, putra Raden Kertawijaya, Pangeran Walangsungsang putra Prabu Siliwangi itu mendirikan Kedaton Islam pertama di Pulau Jawa, tepatnya di Cirebon.

Saat itu, Majapahit sedang berusaha membendung arus "islamisasi" yang dibawa oleh para wali. Majapahit berusaha memurnikan wilayahnya dari pengaruh agama baru, yakni Islam.

Namun di Tanah Sunda, Pajajaran kecolongan. Putra Sang Raja sendiri, Pangeran Cakrabuana yang malah justru mendirikan negara Islam, yaitu Kasultanan Cirebon.

Kisah Pangeran Walangsungsang dan asal-usulnya
Raden Pamanah Rasa atau kemudian bergelar Prabu Siliwangi memiliki tiga istri. Dari istri paramesywari (permaisuri) bernama Dewi Kentring Manik, lahir Pangeran Surawisesa.

Dari bini aji (selir) bernama Dewi Ambet Kasih tidak memiliki keturunan. Sedangkan dari istri selir bernama Rara Subang Larang, melahirkan tiga anak yang sangat terkenal, yaitu Pangeran Walangsungsang, Dewi Rara Santang, dan Rajasangara.

Mungkin putra bungsu dari istri Subang Larang bernama Rajasengara ini yang dikenal dengan Raden Kian Santang. Namun, cerita dan kisahnya masih kontroversi, tetapi sampai saat ini selalu melekat dalam ingatan masyarakat Sunda.

Sejak awal, Rara Subang Larang putri Ki Gedheng Tapa ini beragama Islam. Dia berguru kepada Syekh Quro, seorang ulama berdarah Champa (China-Muslim) yang datang ke Pulau Jawa dan menetap di Pura, Karawang.

Syekh Quro juga bernama Hasanuddin, putra Syekh Yusuf Siddiq dari Champa. Ia datang ke Jawa bersama armada besar Laksamana Cheng Ho dari Kerajaan Tiongkok Ming yang hendak ke Majapahit pada sekitar tahun 1417 Masehi.

Murid Syekh Quro, Nyai Subang Larang belajar agama Islam sejak usia 12 tahun dan dipersunting Prabu Siliwangi menjadi bini aji saat berusia 18 tahun. Setahun kemudian, Nyai Subang Larang melahirkan Pangeran Walangsungsang.

Tiga tahun berikutnya, lahirlah Rara Santang yang kelak menjadi ibunda Sunan Gunung Jati. Dua tahun setelahnya, lahir Sang Rajasangara.

Peran Pangeran Walangsungsang
Atas bimbingan gurunya, Pangeran Walangsungsang mendirikan Keraton Cirebon yang bertempat di wilayah bernama Singapura. Wilayah ini dulu miliknya sang kakek, yaitu Ki Gedheng Topo ayah Nyai Subang Larang.

Mahaprabu Niskala Wastu Kencana (kakek Prabu Siliwangi) yang masih berkuasa atas Tanah Sunda Galuh, justru memberikan restu kepada cicitnya itu. Lantas, Pangeran Walangsungsang mendapatkan gelar Sri Mangana Cakrabuana.

Padahal, Sang Mahaprabu dulu pernah menutup pesantren atau padepokan yang didirikan Syekh Quro karena Sang Mahaprabu belum berkenan wilayahnya dimasuki agama Islam. Namun saat cicitnya mendirikan Kadhaton Cirebon yang bercorak Islam, Mahaprabu justru lebih lunak dan malah memberikan restu.

Pangeran Walangsungsang berperan dalam penyebaran agama Islam di Tanah Sunda yang lebih terstruktur, sistematis dan masif karena melalui peranti negara. Sebelumnya, penyebaran agama Islam hanya dilakukan para ulama dan wali dengan metode dakwah, pendirian padepokan atau pesantren dalam skala kecil.

Selanjutnya, Kadhaton Cirebon yang dirintis Sri Mangana Cakrabuana dilanjutkan keponakan sekaligus menantunya, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, anggota Walisongo. Kedaton Cirebon lantas berkembang pesat menjadi Kasultanan Cirebon. (*)

Belum ada Komentar untuk "Kisah Pangeran Walangsungsang, Pendiri Cirebon & Raja Islam Pertama di Tanah Sunda"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel