Perang Bubat, Sejarah Majapahit vs Sunda Pajajaran yang Tidak Pernah Ada

Sejarah Perang Bubat Majapahit vs Sunda Pajajaran
Ilustrasi Mahapatih Gajah Mada menyerang rombongan dari Keraton Sunda Galuh yang dikenal dengan Perang Bubat.

PERANG BUBAT adalah perang yang terjadi antara pasukan elite Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada dengan rombongan punggawa Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh) yang dipimpin Maharaja Prabu Lingga Buana saat membawa putrinya Dyah Pitaloka Citraresmi pada sekitar tahun Syaka Warsa 1273 atau 1351 Masehi.

Sejarah kisah tersebut ditulis dalam Serat Pararaton dan Kidung Sunda. Adapun lokasi perang bubat sampai saat ini masih menjadi misteri, meski sebagian orang berpendapat bubat adalah daerah yang masuk wilayah Majapahit.

Dari dua sumber sejarah tersebut, cerita perang bubat bermula saat rombongan Raja Sunda Prabu Lingga Buana hendak berangkat ke istana Majapahit untuk menikahkan putrinya, Dyah Pitaloka Citraresmi dengan Maharaja Majapahit Prabu Hayam Wuruk. Pernikahan tersebut sebetulnya atas kehendak Sang Raja Majapahit.

Prabu Hayam Wuruk jatuh cinta dengan putri Kerajaan Pajajaran itu, setelah intelejen Majapahit berhasil melukis kecantikan Dyah Pitaloka Citraresmi untuk dihaturkan kepada Sang Raja. Hayam Wuruk pun tertarik dan ingin menikahinya.

Meski mendapat pertentangan dari Mahapatih Gajah Mada karena Sunda akan menjadi target negara yang akan ditundukkan dalam rangka menyempurnakan Sumpah Palapa-nya dalam menyatukan Nusantara, Sang Maharaja tetap pada pendiriannya dan memerintahkan Rakryan Tumenggung dan Rakryan Demung untuk melamar ke Galuh.

Keraton Galuh pun bersuka cita, putri negeri Sunda telah dilamar oleh raja besar yang menguasai Tanah Jawa dan Nusantara. Hanya saja, pesta pernikahan besar-besaran akan dilangsungkan di istana Majapahit.

Namun, Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati menentangnya. Tokoh dewan Kerajaan Pajajaran itu menilai, sungguh tidak lazim jika ada mempelai wanita mendatangi calon pengantin laki-laki. Menurut pandangannya, hal itu akan menjadi preseden buruk bagi Tanah Pasundan.

Kendati begitu, Prabu Lingga Buana tetap ingin mengantarkan putrinya ke istana Majapahit untuk menikah dengan Prabu Hayam Wuruk, raja Majapahit yang namanya tersohor di dunia internasional waktu itu. Berangkatlah rombongan dari Keraton Galuh menuju istana Majapahit.

Tragedi bubat yang menyedihkan
Rombongan raja dan putri Pasundan tiba di sebuah lokasi bernama bubat. Mereka pun disambut dengan meriah oleh para cethi (pelayan wanita) dan para prajurit dari Majapahit. Pesanggrahan untuk melayani sang Putri Galuh itu pun didirikan. Mereka dijamu dengan baik oleh orang-orang pelayan suruhan Prabu Hayam Wuruk.

Tanpa diketahui raja, Rakryan Mahapatih Gajah Mada dan pasukan khusus Majapahit bernama Bhayangkara ikut bergerak menuju pesanggrahan yang menjadi tempat istirahat bagi rombongan dari Keraton Pajajaran. Gajah Mada menemui Prabu Lingga Buana dan menjelaskan agar putri Sang Prabu, Dyah Pitaloka Citraresmi sebaiknya dihaturkan ke Majapahit sebagai sesembahan Galuh kepada Majapahit.

Dengan demikian, misi penyatuan Nusantara di bawah panji-panji kebesaran Majapahit akan berjalan dengan damai, tanpa ada pertumpahan darah. Mendengar perkataan Gajah Mada, Prabu Lingga Buana mendidih kepalanya. Ia merasa harga diri sebagai raja bagi orang-orang Pasundan terinjak-injak.

"Pantang bagi rakyat Sunda untuk tunduk sedikit pun kepada Majapahit," begitu kira-kira kalimat yang terlontar dari Prabu Lingga Buana yang dikutip histoyofjava.com dari berbagai sumber. Keributan pun terjadi. Puncaknya ketika para punggawa Galuh dan prajurit Bhayangkara sama-sama tidak bisa menahan diri. Kedua belah pihak terpancing dengan amarah!

Perang pun terjadi. Prabu Lingga Buana dan seluruh punggawa Galuh dihabisi tanpa sisa. Namun Gajah Mada dan pasukannya tidak berani menyentuh sedikit pun sang putri, Dyah Pitaloka Citraresmi.

Di luar dugaan, sang putri Galuh menghunus keris berluk tiga belas, pusaka andalan Tanah Pasundan bernama Keris Singa Barong, peninggalan Prabu Jayasinga Warman, Raja Tarumanegara. Sang putri memilih untuk gugur dengan tangannya sendiri, "bela pati" sebagai upaya untuk menjaga marwah dan kehormatan keluarga keraton. Hal itu sudah lumrah terjadi pada zaman kerajaan di Nusantara dulu.

Murka Sang Raja Majapahit
Prabu Hayam Wuruk murka dan marah besar setelah mendengar insiden tersebut. Dia menilai, tragedi Bubat adalah akibat dari ambisi Gajah Mada dalam menuntaskan sumpah Hamukti Palapa-nya untuk menyatukan Nusantara.

Sejak peristiwa itu, hubungan Prabu Hayam Wuruk dan mahapatihnya, Gajah Mada menjadi sangat renggang. Bahkan, ruang gerak dan wewenangnya mulai dibatasi. Gajah Mada kemudian diasingkan di Makadipura (sekarang sekitar Tonggas, Probolinggo, Jawa Timur), sebuah tanah perdikan yang jauh dari wilayah kotaraja Majapahit.

Gajah Mada pun akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pemerintahan Majapahit, karena penempatan dirinya di Makadipura dinilai sebagai bentuk hukuman kepadanya. Sejak saat itu, keberadaan Gajah Mada seperti ditelan bumi. Kebesaran nama mahapatih yang jasanya besar dalam menyatukan Nusantara hingga ke wilayah Champa di utara, Madagaskar di barat dan Kepulauan Fiji di timur itu, kini tak lagi terdengar.

Sementara di istana Galuh, hanya Niskala Wastu Kencana, adik Dyah Pitaloka Citraresmi yang masih hidup, karena tidak ikut dalam rombongan menuju Majapahit lantaran masih kecil. Saat naik tahta, ia mengeluarkan maklumat dan seruan kepada seluruh rakyat Sunda agar tidak menikah dengan orang Jawa.

Larangan ini berlangsung lama hingga beradab-abad lamanya, bahkan hingga sekarang. Sebuah mitos yang diambil dari kisah tragis Perang Bubat antara Kerajaan Pajajaran vs Majapahit. Namun, pertanyaannya: benarkah cerita Perang Bubat itu?

Perang bubat fiktif
Banyak sejarawan modern menilai perang bubat adalah kisah fiktif. Kenapa? Karena cerita tersebut tidak memiliki sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.

Asal tahu saja, Serat Pararaton yang memuat kisah perang bubat ditulis pada Syaka Warsa 1522 atau 1600 Masehi. Nama penulisnya juga tidak ada, sehingga validitas serat ini diragukan oleh para sejarawan.

Selanjutnya, Kidung Sunda yang juga memuat cerita perang bubat juga diterjemahkan dan diangkat oleh seorang Belanda bernama C.C Berg pada tahun 1927, yakni saat Indonesia masih dikuasai oleh penjajah Hindia-Belanda (kelanjutan dari VOC).

Dengan dasar itu, sejarawan menilai, Kidung Sunda adalah pesanan dari Belanda untuk memecah belah antarbangsa, antarsuku. Wajar saja, politik devide at impera (pecah belah) adalah taktik paling jitu untuk merenggangkan hubungan antarbangsa, antarsuku agar semangat untuk memerdekakan diri dari penjajahan menjadi pudar.

Dengan rusaknya hubungan antarsuku, antarbangsa, pemerintah Hindia-Belanda akan semakin mudah menancapkan kekuasaannya di bumi Nusantara. Inilah yang disebut politik adu domba, politik pecah belah untuk menguasai suatu bangsa.

Terlebih, kisah perang bubat yang melibatkan dua negara besar ternyata tidak pernah ada jejaknya, seperti prasasti misalnya. Bahkan, lokasi bubat tempat perang Majapahit vs Pajajaran itu juga masih misterius dan tak pernah ditemukan hingga sekarang.

Berbeda dengan Kitab Negarakrtagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca tahun 1287 atau 1365 Masehi, ternyata tidak memuat kisah tentang perang bubat. Padahal, validitas Kitab Negarakrtagama diakui oleh para sejarawan dan saat ini diakui UNESCO sebagai warisan ingatan dunia (Memory of the World).

Asal tahu saja, hanya dua naskah di Indonesia yang diakui sebagai warisan ingatan dunia oleh Unesco, yaitu Kitab Negarakrtagama yang dikarang Mpu Prapanca dan Babad Dipanegara yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro sendiri. Dengan demikian, validitas cerita perang bubat yang dimuat Pararaton dan Kidung Sunda patut dipertanyakan. Kisah itu sesungguhnya tak pernah ada alias fiktif!

Belum ada Komentar untuk "Perang Bubat, Sejarah Majapahit vs Sunda Pajajaran yang Tidak Pernah Ada"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel