Sejarah Konspirasi Pembunuhan Panembahan Hanyakrawati Raja Kedua Mataram

Kematian Panembahan Hanyakrawati Mas Jolang Raja Mataram
Jenazah Raja Mataram kedua, Panembahan Hanyakrawati saat disemayamkan dalam film Sultan Agung.

MAS JOLANG, demikian nama muda Panembahan Hanyakrawati, raja kedua Mataram. Mengapa Mas Jolang diberi gelar panembahan seda krapyak?

Karena Mas Jolang meninggal dunia karena kecelakaan saat berburu kijang di kawasan Hutan Krapyak pada tahun 1613. Penembahan Seda Krapyak artinya adalah Baginda yang meninggal di Krapyak.

Panembahan artinya adalah orang yang disembah dan dijunjung, biasanya dipakai oleh seorang raja atau penguasa di daerah tertentu. Gelar panembahan pertama kali digunakan ayahanda Mas Jolang, yakni Panembahan Senopati.

Ada banyak pendapat mengenai kematian Mas Jolang, putra Panembahan Senopati dari istri Waskita Jawi atau Kanjeng Ratu Pati itu. Sejarah umumnya mencatat, Mas Jolang meninggal dunia saat berburu kijang di hutan sebagaimana lumrah dilakukan para raja-raja terdahulu.

Namun, tidak diketahui secara jelas "kecelakaan" macam apa yang memuat kematian Panembahan Hanyakrawati. Ada yang menyebut, Raja Mataram kedua tersebut meninggal dunia setelah diseruduk banteng dalam perburuannya di kawasan hutan Krapyak.

Konspirasi pembunuhan Raja Mataram
Kisah mengejutkan tentang kematian Panembahan Hanyakrawati justru muncul dalam sebuah film berjudul Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta (2018) yang disutradarai Hanung Bramantyo. Film ini diproduseri oleh Mooryati Soedibyo, cucu Sri Susuhunan Pakubuwono X dari Keraton Surakarta.

Dengan begitu, cerita dalam film ini bukanlah main-main. Artinya, kisah dalam film Sultan Agung sudah mendapatkan persetujuan dari sang produser yang notabene cucu dari Raja Keraton Surakarta Hadiningrat ke-10, Sri Susuhunan Pakubuwono X.

Dalam film Sultan Agung, sang ramanda, Panembahan Hanyakrawati wafat karena sebuah konspirasi yang dilakukan istrinya sendiri, yakni Ratu Tulungayu, putri dari Ponorogo. Kematian Panembahan Hanyakrawati saat usia Raden Mas Rangsang (nama kecil Sultan Agung) berusia 20 tahun dan masih nyantri untuk menimba ilmu di padepokan Jejeran yang diasuh Ki Jejer.

Konspirasi itu berhasil diungkap Ki Juru Mertani, sesepuh Keraton Mataram atas laporan dari para telik sandi (intelejen) Mataram. Ratu Tulungayu pun harus mendapatkan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku.

Dikisahkan, Ratu Tulungayu kecewa dengan suaminya, Panembahan Hanyakrawati. Begini cuplikan yang dikutip historyofjava.com dari film Sultan Agung, saat Ratu Tulungayu dipanggil Ki Juru Mertani secara rahasia terkait dengan penobatan raja Mataram selanjutnya, Pangeran Martapura.

"Nuwun sewu, kenapa kita bertemu di sini," kata Ratu Tulung Ayu.

"Nyuwun deduka dalem Gusti Ayu, miturut pamanggih kawula, soal penobatan Pangeran Martapura sebaiknya dibicarakan secara rahasia," jawab Ki Juru Martani.

"Pasti para pangeran sedang berupaya menggagalkan (penobatan Pangeran Martapura)," kata Ratu Tulungayu.

"Saya Gusti Ayu, yang diberikan wasiat untuk menobatkan putro dalem (putra mahkota)," jawab Ki Juru Mertani.

"Saya akan memberikan jabatan tinggi kepada Eyang, kalau anakku (Pangeran Martapura atau Raden Mas Wuryah) naik tahta," ucap Ratu Tulungayu.

"Menurut wasiat ini, memang Pangeran Martapura yang akan naik tahta menggantikan swargi panembahan. Tapi Gusti Ayu, ada satu hal yang harus saya tanyakan kepada Gusti Ayu."

"Ada apa?"

Hening sesaat, seseorang yang diikat oleh punggawa Mataram dihadapkan pada Ratu Tulungayu. Di depan Ki Juru Mertani, orang itu mengaku disuruh Ratu Tulungayu untuk membunuh Panembahan Hanyakrawati.

Dialah yang bertanggung jawab atas wafatnya swargi Panembahan Hanyakrawati. Setelah diinterogasi, Ratu Tulungayu akhirnya mengakui perbuatannya.

"Nyuwun pangapunten Gusti, saya terpaksa mengaku. Anak dan istri saya diikat (disiksa), mohon maaf Gusti," ujar seseorang yang tidak disebutkan namanya dalam film tersebut.

"Jika Gusti Ayu mengakui perbuatan Gusti Ayu, Gusti Ayu bersama adinda tercinta, hukumannya akan ringan," ucap Ki Juru Martani.

"Kalian semua sudah bersekongkol untuk menjatuhkan aku," kata Ratu Tulungayu.

"Mohon akui saja perbuatan Gusti Ayu. Kenapa Gusti Ayu sampai (tega) melakukan ini," timpal Ki Juru Mertani.

"Kalian semua tidak akan pernah merasakan perasaan perempuan yang direnggut kebebasannya hanya untuk melanggengkan kekuasaan laki-laki. Aku dijanjikan sebagai satu-satunya Ratu Mataram, tapi rajamu menikah lagi hanya karena aku tidak bisa memberikan seorang anak laki-laki sebagai pewaris tahta."

"Tapi di saat aku bisa (memberikan anak laki-laki), rajamu tetap tidak menunjukkan perubahan. Malah berupaya untuk mengingkari janjinya," kata Ratu Tulungayu.

"Gusti Ayu semestinya mengerti keadaan Pangeran Martapura. Swargi panembahan tidak rela mengorbankan masa depan Mataram," jawab Ki Juru Martani.

"Aku yang akan menjaganya. Aku ibunya!" jawab Ratu Tulungayu.

"Terlambat Gusti Ayu. Sekarang Gusti Ayu harus mempertanggungjawabkan perbuatan Gusti Ayu," kata Ki Juru Martani.

Polemik penobatan raja
Seperti kita tahu dalam sejarah umum, Raden Mas Wuryah adalah putra Panembahan Hanyakrawati dari istri Ratu Tulungayu. Konon, Raden Mas Wuryah atau Pangeran Martapura lahir dalam keadaan gangguan mental.

Itu sebabnya, Panembahan Hanyakrawati memilih Mas Rangsang putranya dari istri Dyah Banowati (Ratu Mas Hadi). Dyah Banowati sendiri merupakan putri Pangeran Benawa sekaligus cucu Raja Pajang Sultan Hadiwijaya.

Sedangkan Panembahan Hanyakrawati pernah berjanji kepada permaisuri pertama, Ratu Tulungayu bahwa anaknya nanti yang akan menggantikannya sebagai raja. Namun, Ratu Tulungayu tidak segera diberikan keturunan.

Setelah itu, Panembahan Hanyakrawati menikah lagi dengan putri Pangeran Benowo dan melahirkan Mas Rangsang (kelak bernama Sultan Agung). Beberapa tahun setelah melahirkan Mas Rangsang, Ratu Tulungayu akhirnya melahirkan anak laki-laki, Raden Mas Wuryah.

Dengan begitu, Raden Mas Wuryah terbilang adik Sultan Agung beda ibu. Penobatan Raden Mas Rangsang menjadi Raja pun sempat diwarnai protes dan ketidakpuasan dari para pendukung politik Ratu Tulungayu dan Raden Mas Wuryah.

Sebelum Sultan Agung dinobatkan menjadi raja, Raden Mas Wuryah sebetulnya dinobatkan sebagai raja terlebih dahulu dengan gelar Adipati Martapura, tetapi hanya satu hari. Hal itu untuk memenuhi janji swargi Panembahan Hanyakrawati yang dulu pernah menjanjikan tahta untuk keturunan dari Ratu Tulungayu.

Hanya dengan sehari saja, posisi Adipati Martapura digantikan oleh Mas Rangsang bergelar Panembahan Hanyakrakusuma. Saat dinobatkan menjadi raja, Sultan Agung berusia 20 tahun sedangkan Pangeran Martapura waktu itu baru berusia 8 tahun. (*)

Belum ada Komentar untuk "Sejarah Konspirasi Pembunuhan Panembahan Hanyakrawati Raja Kedua Mataram"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel