Sejarah Mistis Pati dan Jogja, Kenapa Tidak Boleh Menikah?

Sejarah Pati dan Jogjakarta
Ilustrasi Pati dan Jogja. (Historyofjava.com)

SEJARAH mistis Pati dan Jogjakarta tidak lepas dari sejarah kelam perseteruan antara Kadipaten Pati dengan Kerajaan Mataram. Cerita ini yang nantinya memunculkan mitos hingga sekarang kenapa warga Pati dan Jogja tidak boleh menikah.

Kisah bermula ketika Panembahan Senopati ing Alaga, Raja Mataram memutuskan untuk mengambil istri Retno Dumilah, putri Madiun. Padahal, Panembahan Senopati sudah memiliki istri Waskita Jawi, putri Ki Panjawi penguasa Kadipaten Pati.

Namun yang mempersoalkan pernikahan Panembahan Senopati dan Retno Dumilah putri Madiun bukanlah Ki Ageng Penjawi, melainkan Wasis Joyokusumo, putra Ki Panjawi atau adik Waskita Jawi Sang Permaisuri Mataram. Dengan kata lain, pertentangan itu muncul dari adik ipar Panembahan Senopati, yakni Wasis Joyokusumo bergelar Adipati Pragola.

Saat itu, tahta Pati sudah diserahkan kepada Adipati Pragola. Dia tidak ingin posisi kakaknya, Kanjeng Ratu Pati sebagai garwa padmi (permaisuri) digeser oleh kehadiran Retno Dumilah Sang Putri Madiun. Padahal, penaklukan Mataram atas wilayah Madiun dibantu dengan sungguh-sungguh oleh bala tentara Kadipaten Pati yang dikenal sangat kuat.

Apa yang didapatkan setelah penaklukan Madiun? Sang Raja Mataram justru menikah putri Madiun. Inilah awal mula perseteruan antara Mataram dan Pati, antara Raja dan adik ipar yang dikenal dengan kesaktiannya.

Puncaknya ketika Adipati Pragola memutuskan untuk mengerahkan bala tentara Pati untuk menyerang Mataram. Pasukan Pati mendirikan barak di kawasan Candi Prambanan.

Panembahan Senopati mengutus putranya, Mas Jolang untuk menghadapi pamannya itu. Namun, sang paman enggan melawan keponakannya sendiri. Ia meminta agar Panembahan Senopati sendiri yang melawannya.

Kisah umumnya menceritakan, pasukan Pati berhasil dipukul mundur dan Adipati Wasis Joyokusumo tewas di tangan Panembahan Senopati. Hanya saja, banyak sejarawan yang justru mempertanyakan validitas sejarah peperangan Mataram dan Pati tersebut.

Catatan yang diperoleh historyofjava.com dari H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud (2001) dan M.C. Ricklefs (1991) menyebutkan, Panembahan Senopati tidak pernah mau menanggapi tantangan adik iparnya tersebut. Akhirnya, Adipati Pragola memutuskan untuk menarik pasukannya dan mendirikan barak di kawasan Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah.

Hingga wafatnya Adipati Wasis Joyokusumo penguasa Pati Pesantenan tersebut, Panembahan Senopati tidak pernah meladeni tantangan sang adik ipar. Dengan begitu, Pati dan Mataram tidak pernah bertempur secara langsung.

Sejarah selalu terulang
Api dalam sekam memang tidak terlihat. Namun sewaktu-waktu api itu bisa berkobar dan menjalar seperti perasaaan seorang anak Adam.

Konflik laten antara Pati dan Mataram terulang antara putra Wasis Joyokusumo bergelar Adipati Pragola II dengan cucu panembahan Senopati, Sultan Agung Adiprabu Hanyakrakusuma atau Raden Mas Rangsang.

Sebuah kebetulan, kedudukan Panembahan Senopati dan adik iparnya, Adipati Pragola sama dengan kedudukan Sultan Agung dengan Adipati Pragola II sebagai kakak-adik ipar. Adik Sultan Agung, Raden Ayu Tulak atau Ratu Mas Sekar menikah dengan Adipati Pragola II, putra Wasis Joyokusumo.

Seolah meneruskan riwayat ayahnya, Adipati Pragola II memandang kedudukan Pati dan Mataram adalah sama, sederajat. Karena itu, cucu Ki Panjawi ini enggan untuk menghadiri pisowanan di Keraton Mataram.

Sultan Agung sebetulnya sudah mengetahui gelagat adik iparnya itu. Namun, Kadipaten Pati adalah wilayah kuat yang sangat merugikan apabila Mataram berseteru dengannya, karena hanya akan menguras energi Mataram.

Puncak konflik ketika Pati menyerang Jepara, daerah bawahan Mataram. Atas laporan Patih Endranata, suasana menjadi semakin keruh. Laporan dibumbui bahwa Pati berniat memberontak dan menggelorakan perlawanan terhadap Mataram.

Sultan Agung lantas memerintahkan untuk mengepung Pati dari tiga arah, yakni di Pekuwon Juwana di timur, kawasan bukit pegunungan Kendeng di selatan dan Desa Metaraman, Margorejo dari arah barat. Adipati Pragola II meninggal dunia dalam pengepungan tersebut.

Istri Adipati Pragola II sekaligus adik kandung Sultan Agung, Ratu Mas Sekar mengatakan jika semua laporan yang disampaikan Patih Endranata telah dipalsukan. Suaminya itu tidak pernah berniat mengobarkan perang dengan Mataram.

Endranata akhirnya dieksekusi mati. Semuanya hanya salah paham. Namun bagi masyarakat Pati, kisah tersebut selalu diingat hingga muncul pantangan bagi warga Pati menikah dengan orang dari Yogyakarta yang menjadi kelanjutan dari Dinasti Mataram.

Kisah mistis Raja Jogja lengser
Tidak hanya soal pernikahan saja, sejarah pelik Mataram dan Pati juga membuat mitos tersendiri hingga saat ini, yakni pejabat Jogja yang menginjakkan kakinya di Tanah Pati akan lengser jabatannya!

Pernah suatu ketika, Bupati Pati dijabat oleh orang asli Jogja. Tak berlangsung lama, ia meninggal dunia. Cerita ini semakin menguatkan mitos tentang leluhur Pati dan Mataram yang berseteru di masa lampau.

Seorang wanita asal Pati pernah bercerita kepada redaksi historyofjava.com, ia menikah dengan pria Jogja. Setelah memiliki keturunan, suaminya meninggal dunia. Mungkin banyak cerita mistis tentang musibah yang diterima bila pernikahan antara orang Jogja dan Pati nekat dilangsungkan.

Rekonsiliasi
Sejarah perlawanan Pati terhadap Mataram mendapat sorotan dari banyak pihak, terutama para pemerhati sejarah. Salah satunya Herman Sinung Janutama, peneliti naskah kuno asal Yogyakarta.

Menurut dia, peperangan Pati vs Mataram tidak pernah ada. Sejarah itu dibuat Belanda untuk memecah belah rakyat agar mudah dikuasai oleh Belanda, sama seperti kisah perang bubat antara Majapahit dan Sunda.

Sinung mengatakan, berbagai serat yang menjadi rujukan sejarah banyak dibuat Belanda usai Perang Diponegoro. Terlebih, bukti yang menyatakan peperangan Pati melawan Mataram tidak pernah ada.

Namun mitos permusuhan Pati dan Jogja kadung kuat dalam ingatan masyarakat akibat kekeliruan sejarah tersebut. Karena itu, masyarakat sekarang harus lebih teliti dan bijaksana dalam membaca sejarah.

Sudah saatnya Pati dan Jogja melakukan rekonsiliasi, karena sejarah yang sebenarnya mulai banyak terungkap bahwa tidak ada peperangan antara Kadipaten Pati dan Mataram di masa lampau. Kalau pun memang ada, itu hanya perselisihan dan kesalahpahaman yang tidak sampai mengakibatkan perang. (*)

Belum ada Komentar untuk "Sejarah Mistis Pati dan Jogja, Kenapa Tidak Boleh Menikah?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel