Syekh Siti Jenar: Asal-usul, Silsilah dan Riwayatnya dari Lahir hingga Meninggal Dunia

Syekh Siti Jenar Asal-usul Silsilah dan Riwayatnya dari Lahir hingga Meninggal Dunia
Ilustrasi Syekh Siti Jenar dan Walisongo.

SYEKH Siti Jenar adalah ulama besar yang lahir di Tanah Sunda. Nama aslinya adalah Sayyid Hasan Ali al Husaini, juga dikenal Syekh Abdul Jalil atau Syekh Lemah Abang.

Syekh Siti Jenar sepenuhnya berdarah Arab dan sedikit Melayu. Darah Arab berasal dari ayahnya, Syekh Datuk Soleh. Darah Melayu berasal dari ibunya, Siti Fatimah.

Syekh Datuk Soleh adalah seorang ulama yang terpaksa menyingkir dari Kasultanan Malaka menuju Tanah Jawa bagian barat, karena gejolak politik-kenegaraan yang terjadi di Malaka.

Ia memilih untuk tinggal dan menetap di wilayah kekuasaan Kedaton Japura yang letaknya berada di sebelah tenggara Kedaton Singapura (sekarang Cirebon).

Di wilayah Kedaton Singapura sendiri, telah tinggal seorang ulama bernama Syekh Datuk Kahfi yang mendirikan Padepokan Amparan Jati. Ia dikenal juga dengan nama Syekh Nurjati.

Syekh Datuk Kahfi sendiri masih keponakan Syekh Datuk Soleh, karena ayah Syekh Datuk Kahfi yang bernama Syekh Datuk Ahmad adalah kakak kandung Syekh Datuk Soleh.

Ayah Syekh Siti Jenar itu datang ke wilayah Kedaton Japura yang berada dalam kekuasaan Kerajaan Sunda-Galuh pada sekitar Syaka Warsa 1346 atau 1424 Masehi. Syekh Datuk Soleh memulai hidup di kawasan Japura dengan berdagang.

Usahanya meningkat pesat. Hingga suatu hari berkenalan dengan Ki Danusela yang tinggal di Kebon Pasisir atau Tegal Alang-alang.

Kelak, wilayah Kebon Pasisir atau Tegal Alang-alang ini berubah namanya menjadi Caruban Larang dan lantas dikenal lagi dengan sebutan Cirebon.

Hidup bersama suami di perantauan, Siti Fatimah mengandung jabang bayi. Namun, sang suami, Syekh Datuk Soleh terlebih dahulu meninggal dunia sebelum jabang bayi itu lahir.

Jabang bayi itu lahir pada Syaka Warsa 1348 atau 1426 Masehi. Oleh Syekh Datuk Kahfi, jabang bayi tersebut dinamakan Sayyid Hasan Ali al Husaini.

Kelak, ia dikenal dengan Syekh Abdul Jalil atau Syekh Lemah Abang. Ia populer dengan nama Syekh Siti Jenar.

Dengan demikian, Syekh Siti Jenar masih adik sepupu dari Syekh Datuk Kahfi yang usianya terpaut jauh. Karena rasa kasihan, Ki Danusela sahabat karib Syekh Datuk Soleh sewaktu berdagang, akhirnya mengangkat Sayyid Hasan Ali al Husaini sebagai anak pupon atau anak angkat.

Sejak kecil, Sayyid Hasan Ali al Husaini dititipkan untuk menerima ajaran agama Rasul di Padepokan Amparan Jati yang didirikan kakak sepupunya sendiri, Syekh Datuk Kahfi (Syekh Nurjati).

Menginjak usia dewasa, Sayyid Hasan Ali al Husaini sering membantu bapak angkatnya, Ki Danusela dalam urusan perniagaan. Pada saat yang sama, putri Ki Danusela yang bernama Retna Riris diambil istri oleh Pangeran Walangsungsang yang kelak menjadi penguasa Cirebon bergelar Shri Mangana Cakrabuana.

Atas hubungan pernikahan itu, Syekh Siti Jenar yang menjadi anak angkat Ki Danusela akhirnya dianggap sebagai adik angkat oleh Pangeran Walangsungsang, menantu Ki Danusela.

Lebih-lebih, Syekh Siti Jenar masih adik sepupu dari Syekh Datuk Kahfi, guru Pangeran Walangsungsang di Padepokan Amparan Jati. Karena itu, hubungan Syekh Siti Jenar dengan Pangeran Cakrabuana sudah dianggap seperti adik sendiri.

Adapun Retna Riris, putri Ki Danusela dikenali dengan nama Dewi Kancana Larang saat Pangeran Walangsungsang ditabalkan sebagai penguasa Cirebon bergelar Shri Mangana Cakrabuana.

Pengembaraan Syekh Siti Jenar ke Tanah Jawa wilayah timur yang dikenali dengan Majapahit, karena atas perintah kakak angkatnya sendiri, Shri Mangana Cakrabuana. Ia mendapatkan mandat untuk ikut menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.

Dalam perintahnya, penguasa Cirebon itu meminta agar Syekh Siti Jenar melakukan ziarah ke tempat-tempat suci sekaligus menggali ilmu leluhur Jawa Kuno. Setelahnya, ia juga harus mengunjungi tempat-tempat suci serta belajar ilmu Sunda kuno.

Tujuannya agar Syekh Siti Jenar paham betul agama dan keyakinan leluhur Nusantara, terutama leluhur Jawa dan Sunda kuno agar mampu menyebarkan agama Islam dengan baik.

Mungkin karena itu pula, Syekh Siti Jenar memiliki pandangan dan pemikiran yang lebih terbuka ketimbang para pendakwah lainnya. Ia dikenal dengan ajarannya yang langsung tertuju pada "hakikat" atau "makrifat".

Karena ajaran itu pula sesungguhnya ada dalam pengajaran agama Syiwa-Buddha, agama yang eksis berabad-abad lamanya di Tanah Jawa, baik di Majapahit maupun Sunda-Galuh.

Dalam perjalanan hidupnya, Syekh Siti Jenar pernah masuk anggota Walisongo atas rekomendasi Sunan Ampel, sesepuh sekaligus pendiri Majelis Dakwah Walisongo.

Bahkan, ia dipercaya sebagai Panetep Panatagama ring Sunda menggantikan jabatan yang semula dipegang kakak sepupunya, Syekh Datuk Kahfi. Ia juga sempat mendirikan Padepokan Krendasawa di kawasan Lemah Abang, Cirebon.

Mungkin karena itu, ia juga akrab dikenali sebagai Syekh Lemah Bang. Ia memutuskan untuk keluar dari anggota Majelis Dakwah Walisongo saat dipimpin Sunan Giri.

Alasannya, pergerakan Walisongo yang ikut campur pada urusan politik-kenegaraan dianggap sudah tidak murni lagi pada perjuangan syiar agama Islam. Ketidaksepahaman dengan Sunan Giri itulah yang menjadi alasan bagi pihak Sunan Giri untuk menyesatkan ajaran Syekh Lemah Bang tentang "Manunggaling Kawula lan Gusti."

Bagi Sunan Giri, Syekh Lemah Abang dan ajarannya akan menjadi duri dalam tubuh Majelis Dakwah Walisongo. Apa yang menjadi pemikiran Syekh Siti Jenar terbukti ketika Walisongo berhasil mendorong suksesi berdirinya Demak Bintoro sebagai negara Islam di Tanah Jawa, lantas ia mendirikan kerajaan dan menjadi Raja Giri Kedaton di Gresik.

Raden Patah tidak bisa berbuat apa-apa ketika pimpinan Walisongo itu mendirikan negara sendiri di Gresik. Padahal semestinya, hanya Kasultanan Demak satu-satunya negara yang mengukuhi Tanah Jawa sebagaimana Majapahit masih berjaya.

Sementara Syekh Siti Jenar memilih hidupnya dengan jalan kenikmatan melebur bersama Dzat yang Maha Suci. Karena baginya, tidak ada apa-apa di semesta ini kecuali hanya Dia semata.

Adapun tubuh manusia dan materi dunia ini hanya fana belaka. Karena itu pula, konon saat Syekh Siti Jenar menerima hukuman mati karena dianggap sesat dan menyesatkan, ia tetap tenang dan meninggalkan bau wangi di sekitar lokasi eksekusi.

Sunan Kudus, sang eksekutor juga terkejut dengan peristiwa meninggalnya Syekh Siti Jenar usai dieksekusi. Konon, di tengah-tengah darah, lamat-lamat halus membentuk empat huruf yang apabila dibaca berlafazh "Allah".

Kanjeng Sunan Kalijaga yang pada saat kejadian mengalami peningkatan kesadaran dan spiritual, mendengar suara halus dan pelan. Suara itu kemudian ditulis dalam Tembang Kinanti.

Begini salah satu penggalan kalimat yang menurut historyofjava.com memiliki makna sebagai pembelajaran bersama. "Sejati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinen pangesthinira, gineleng dadi sawiji, wijanging ngelmu jatmika, neng kahanan eneng ening."

Artinya, "Sesungguh-sungguhnya ilmu, berada di dalam kesadaranmu sendiri. Tingkatkan kesadaranmu itu, satukan dengan Kesadaran Sejati. Kesempurnaan ilmu sesungguhnya akan kamu dapatkan dalam keadaan diam (eneng) hening (ening)."

Makam Syekh Siti Jenar
Jenazah Syekh Lemah Abang kemudian dimakamkan di Kampung Kemlaten, Cirebon. Tapi atas perintah Sunan Gunung Jati yang sudah menjadi penguasa Cirebon menggantikan Shri Mangana Cakrabuana, jenazah Syekh Siti Jenar dipindah di Giri Amparan Jati.

Namun begitu, ada banyak versi mengenai letak dan lokasi makam Syekh Siti Jenar yang benar. Ada yang mengatakan di kawasan Masjid Agung Demak, ada pula yang menyebut di Jepara, Jawa Tengah.

Hal itu tidak lepas dari keharuman nama Syekh Lemah Abang sebagai pendakwah agama Islam dengan caranya sendiri. Dialah sosok yang menjadi guru para tokoh Jawa seperti Kanjeng Sunan Kalijaga, Raden Bondan Kejawan (putra Prabu Brawijaya Raja Majapahit dari istri selir) yang menjadi "Lelajer Tanah Jawa", Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging (ayahanda Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya) dan masih banyak lagi lainnya.

Cerita singkat mengenai sejarah asal-usul, silsilah dan riwayat Syekh Siti Jenar dari lahir hingga meninggal dunia ini diambil dari berbagai sumber referensi, seperti Babad Tanah Jawi Demakan, Babad Tuban, Babad Cirebon, Serat Kandha, Purwaka Caruban Nagari, hingga cerita tutur masyarakat. (*)

Belum ada Komentar untuk "Syekh Siti Jenar: Asal-usul, Silsilah dan Riwayatnya dari Lahir hingga Meninggal Dunia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel