Syekh Subakir: Asal-usul, Ajaran dan Letak Makamnya yang Asli

Syekh Subakir Tumbal Tanah Jawa
Syekh Subakir menumbali Tanah Jawa agar stabil, ia juga menaklukkan jin Pulau Jawa (ilustrasi).

SYEKH Subakir itu siapa? Bagaimana asal-usulnya dan dari mana? Letak makam Syekh Subakir yang asli dimana?

Demikian pertanyaan yang bergelayut di benak kita semua. Syekh Subakir dikaitkan dengan sosok ulama mistis atau waliyullah yang menumbali Tanah Jawa.

Siapa nama asli Syekh Subakir? Dalam berbagai catatan sejarah yang kuat, Syekh Subakir memiliki nama asli Maulana Muhammad al-Baqir.

Orang Jawa yang cenderung tidak bisa mengucapkan lafazh bernuansa Arab, akhirnya mengenalnya dengan Subakir. Contoh lain ejaan Muhammad, terbaca Mukamad atau kata "Islam" pada zaman dulu terbaca "Selam."

Maka wajar ketika Presiden Joko Widodo mengucap "al-Fatihah" menjadi "al-patekah", karena Jokowi masih mewarisi tradisi sebagai orang Jawa.

Hanya saja, ucapan Jokowi tentang al-patekah kemudian dipolitisir saat Pemilu 2019, seolah-olah Jokowi tidak mengenal ajaran Islam. Ini keliru dan salah besar, karena lidah orang Jawa zaman dulu begitu adanya.

Asal-usul Syekh Subakir
Dalam catatan sejarah yang diambil historyofjava.com dari berbagai sumber, Maulana Muhammad Al-Baqir adalah putra Syekh Jamaluddin Syah Jalal atau Syekh Jumadil Kubro.

Maulana Muhammad al-Baqir bersama delapan rombongan ulama sufi lainnya diutus Sultan Muhammad Jalabi (Mehmed 1) dari Turki Utsmaniyah (Ottoman) untuk berdakwah menyebarkan agama Islam di sebuah wilayah yang kaya akan rempah-rempah.

Wilayah yang dikenal kaya akan sumber daya alam dan rempah-rempah itu dikenali sebagai Kerajaan Majapahit, berpusat di Tanah Jawa. Syekh Subakir berangkat dari Turki ke Jawa bersama ayahnya, Syekh Jumadil Kubro dan saudara-saudara kandungnya seperti Syekh Malik Isra'il, Muhammad Ali Akbar, dan Syekh Maulana Maghribi.

Paman Syekh Subakir bernama Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) juga ikut dalam rombongan yang dibiayai secara penuh oleh Kasultanan Turki Ottoman itu. Sunan Gresik merupakan adik Syekh Jumadil Qubro. Dengan begitu, Syekh Subakir adalah keponakan Sunan Gresik.

Asal-usul Syekh Subakir sebetulnya bukan dari Turki (Ngerum), tetapi dari Persia (sekarang Iran). Hanya saja, ia masuk ke dalam sembilan wali yang ditunjuk Kekalifahan Turki Utsmani untuk berdakwah di Tanah Jawa.

Baca selengkapnya: 9 Wali yang Dikirim Sultan Turki untuk Mengislamkan Tanah Jawa

Rombongan sembilan ulama ini ada yang menyebut Walisongo angkatan pertama. Namun sebetulnya salah. Sebab, majelis dakwah Walisanga terbentuk pada era Sunan Ampel, jauh sesudah datangnya rombongan ulama sufi yang dikirim dari Kasultanan Turki Ottoman.

Datangnya Syekh Subakir bersama rombongan lainnya ke Tanah Jawa, sebelum adanya campur tangan dari Jaringan Nan Yang, jaringan yang dibentuk Laksamana Cheng Ho untuk mengislamkan Asia Tenggara, termasuk Jawa dan Nusantara. Jaringan ini kemudian bermetaformosis menjadi "Walisanga" di bawah pimpinan Sunan Ampel.

Sementara Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik sudah terlebih dahulu meninggal dunia dan dimakamkan di Gresik, sebelum Sunan Ampel membentuk Walisanga.

Ajaran Syekh Subakir
Syekh Subakir adalah ulama yang ternyata juga ahli ekologi alam atau lingkungan. Ajaran Syekh Subakir yang kini menjadi mitos di kawasan bukit Gunung Tidar Magelang adalah larangan membuat sumur.

Alasannya, bukit Tidar waktu itu yang masih berupa hutan belantara menyimpan sumber daya air yang melimpah. Dengan memperhitungkan daya resap air dan daya dukung tanah, larangan membuat sumur bertujuan agar sumber mata air di bawah tidak menjadi kering.

Lebih dari itu, di dalam Gunung Tidar terdapat sumber mata air besar yang jika salah dalam membuat lubang sumur dapat menyebabkan banjir besar. Ini mirip kasus Lapindo dimana jika salah satu lubang sumber mata air di bawah Gunung Tidar bocor, mengakibatkan munculnya air secara terus menerus yang bisa menenggelamkan penduduk sekitar di bukit Tidar.

Itu sebabnya, sumber mata air di kawasan Gunung Tidar dulu sempat ditutup menggunakan salah satu tombak Syekh Subakir. Ia lantas memberi ajaran kepada penduduk agar tidak membuat sumur. Mitos tersebut masih ada hingga sekarang.

Syekh Subakir adalah ulama pilihan yang selain ahli ekologi lingkungan, juga seorang pengusaha ulung atau ahli dagang, ahli rukyah dan ahli nujum (ramalan). Karena itu, saat ia menumbali Tanah Jawa, banyak bangsa jin yang menyingkir ke Alas Roban bagian barat, Laut Kidul dan Gunung Merapi pada bagian selatan.

Tidak ada sejarah yang mencatat ajaran Syekh Subakir, meski ia adalah ulama tasawuf. Namun dalam versi tertentu, Syekh Subakir dikaitkan dengan tokoh Aji Saka yang kemudian melahirkan ajaran aksara Jawa yang dikenal Ha Na Ca Ra Ka.

Dalam versi sejarah ini, Syekh Subakir yang tiba di Tanah Jawa dikenali warga dengan nama Aji Saka. Namun pendapat ini lemah dan tidak memiliki catatan sejarah yang mumpuni.

Yang jelas, Syekh Subakir membawa ajaran Islam di Tanah Jawa, keyakinan yang mengharuskan iman kepada Allah sebagai Tuhan semesta alam dan Nabi Muhammad sebagai rasul-Nya. Sebab, manusia Jawa saat itu sebagian besar beragama Syiwa-Buddha (Hindu-Buddha).

Manusia Jawa zaman dulu memegang ajaran teguh Dewa Siwa yang berasimilasi dengan Buddha, sehingga dikenal Syiwa-Buddha. Sementara penganut Wisnupaksa (Dewa Wisnu) tidak begitu populer di Jawa.

Letak makam Syekh Subakir yang asli
Di Gunung Tidar Magelang ada makam Syekh Subakir. Namun, spiritualis dari Kisah Tanah Jawa, Om Hao, menyebut lokasi itu hanya petilasan. Artinya, dulu memang sebagai tempat untuk bermunajat kepada Allah.

Meski demikian, ada sosok Syekh Subakir yang memang tinggal di sana, yakni qorin dari Syekh Subakir. Dalam ilmu supranatural, qorin adalah sosok jin pendamping seorang manusia yang memang seratus persen mirip, bisa meniru, bahkan merasa menjadi "diri sendiri" dari seorang yang meninggal dunia.

Jin qorin bisa dikatakan "copy paste" dari sosok leluhur yang meninggal dunia, karena menyimpan memori hidup dari lahir hingga meninggal dunia. Dalam tradisi Jawa, jin qorin dikenal sedulur tuwo (saudara tua).

Dalam buku Sabda Palon karya Damar Shashangka, ketika para ulama utusan Sultan Turki Utsmani sudah sepuh dan wafat, Syekh Subakir memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, yaitu Persia atau sekarang menjadi negara Iran. Jika memang ini benar, berarti makam Maulana Muhammad Al-Baqir terletak di negara Iran.

Ada yang menyebutkan, Syekh Subakir kemudian wafat di Persia pada tahun 1462 Masehi dan dimakamkan di sana. Namun, petilasan yang kemudian diyakini makam Syekh Subakir juga tersebar di berbagai daerah di Indonesia, terutama Pulau Jawa.

Hal itu wajar, karena beliau datang di Tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam di berbagai lokasi dan tempat. Nama dan sosoknya yang sering dikaitkan dengan hal-hal mistis, begitu melegenda dalam ingatan masyarakat Jawa masa kini. (*)

Belum ada Komentar untuk "Syekh Subakir: Asal-usul, Ajaran dan Letak Makamnya yang Asli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel